Solusiindonesia.com — Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan warga Iran untuk terus melakukan unjuk rasa anti-pemerintah dan mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi berat bagi negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Teheran.
Melalui platform media sosialnya, Trump menyampaikan pesan provokatif yang ditujukan langsung kepada para pengunjuk rasa di Iran. Ia juga mengisyaratkan penghentian total jalur diplomasi hingga tindakan keras terhadap demonstran dihentikan.
“MIGA”: Slogan Baru Trump untuk Krisis Iran
Dalam unggahan di Truth Social pada Selasa (13/1/2026), Trump mendesak warga Iran untuk mengambil alih lembaga-lembaga pemerintahan. Ia bahkan menggunakan akronim baru yang memicu kontroversi global.
“Patriot Iran, TERUS PROTES – AMBIL ALIH LEMBAGA-LEMBAGA ANDA!!! Bantuan sedang dalam perjalanan. MIGA!!!” tulis Trump.
Istilah MIGA merupakan singkatan dari “Make Iran Great Again”, sebuah adaptasi dari slogan politiknya yang terkenal, Make America Great Again (MAGA). Meski Trump menjanjikan “bantuan”, detail mengenai bentuk bantuan tersebut masih samar.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa opsi serangan udara sedang dipertimbangkan sebagai salah satu langkah ekstrem, meski ia menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi preferensi utama.
Ancaman Ekonomi Global: Tarif 25%
Tak hanya tekanan politik, Trump juga meluncurkan “senjata” ekonomi yang berpotensi mengguncang perdagangan global. Ia mengumumkan kebijakan tarif bagi negara mana pun yang masih bertransaksi dengan Republik Islam Iran.
Krisis Kemanusiaan: Simpang Siur Jumlah Korban
Situasi di lapangan di Iran dilaporkan semakin mencekam. Demonstrasi yang dipicu oleh keterpurukan ekonomi telah memakan banyak korban jiwa. Namun, terdapat perbedaan data yang signifikan terkait jumlah korban:
Sumber Informasi Estimasi Jumlah Korban Tewas Pejabat Pemerintah Iran (via Reuters) ± 2.000 orang (termasuk aparat keamanan) Iran Human Rights (IHR) 648 orang terkonfirmasi (estimasi total > 6.000) PBB Ratusan orang (berdasarkan informasi terpercaya)
Pembakaran kantor polisi di Teheran pada Sabtu (10/1/2026) menjadi simbol kemarahan massa terhadap kondisi ekonomi yang kian terpuruk akibat sanksi bertahun-tahun dari Washington.
Respons Teheran: “Kami Siap Berperang”
Menanggapi gertakan Washington, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya tidak akan mundur. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia memperingatkan AS untuk tidak menguji kekuatan militer Iran.
Araghchi mengklaim bahwa kesiapan militer Iran saat ini jauh lebih kuat dibandingkan saat terjadi serangan AS terhadap situs nuklir Iran Juni lalu. Ia juga menuduh adanya “elemen teroris” yang menyusup ke tengah massa untuk memicu kerusuhan dan menyalahkan pihak luar yang ingin menyeret AS ke dalam perang demi kepentingan Israel.
“Jika Washington ingin menguji opsi militer, kami siap melakukannya,” tegas Araghchi, sembari tetap membuka celah kecil bagi dialog jika AS memilih langkah yang lebih bijaksana.








