Solusiindonesia.com — Presiden Tiongkok Xi Jinping secara terbuka mempertegas ambisinya untuk menjadikan Yuan (RMB) sebagai mata uang cadangan global utama. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya Beijing menantang hegemoni dolar AS yang telah mendominasi sistem keuangan internasional sejak Perang Dunia II.
Melalui pidato tahun 2024 yang baru saja dipublikasikan media resmi Partai Komunis, Qiushi, Xi menekankan pentingnya Tiongkok memiliki “mata uang kuat” yang digunakan secara luas dalam perdagangan, investasi, hingga pasar valuta asing.
Untuk mencapai status mata uang cadangan global, Xi Jinping menguraikan lima pilar utama yang harus diperkuat oleh Negeri Tirai Bambu:
- Bank Sentral yang Tangguh: Independensi dan kebijakan moneter yang stabil.
- Lembaga Keuangan Global: Bank-bank Tiongkok yang mampu bersaing di kancah internasional.
- Pusat Keuangan Internasional: Memperkuat peran kota seperti Shanghai dan Hong Kong.
- Regulasi yang Kuat: Sistem pengawasan untuk memitigasi risiko sistemik.
- Talenta Keuangan: Sumber daya manusia unggul di sektor ekonomi.
“Membangun kekuatan finansial memerlukan upaya jangka panjang dan kerja yang berkelanjutan,” ujar Xi, mengakui bahwa sistem keuangan Tiongkok saat ini “besar namun belum cukup kuat.”
Mengapa Beijing mempercepat langkahnya sekarang? Para analis melihat adanya celah pada stabilitas dolar AS. Pada paruh pertama 2025, dolar tercatat melemah hingga 10%, penurunan terdalam sejak 1973.
Sentimen proteksionisme AS dan kebijakan tarif “Liberation Day” era Trump memicu kekhawatiran global terhadap ketergantungan pada sistem keuangan AS.
“Pelajaran bagi Tiongkok adalah bahwa pasar merupakan pembendung luar biasa terhadap perilaku AS. Penggunaan Yuan akan mengurangi tekanan sanksi dan risiko nilai tukar,” kata Lin Han-Shen, Direktur China di The Asia Group.
Lonjakan Investasi dan Perdagangan
Data mendukung urgensi internasionalisasi Yuan ini:
- Surplus Perdagangan: Mencapai rekor $1,19 triliun pada 2025.
- Investasi Luar Negeri (FDI): Menyentuh $192,2 miliar pada 2024.
- Sistem CIPS: Alternatif SWIFT milik Tiongkok kini memiliki 1.729 peserta di 189 negara.
Meski infrastruktur digital seperti Cross-Border Interbank Payment System (CIPS) tumbuh pesat, Yuan masih menghadapi jalan terjal. Data IMF menunjukkan porsi Yuan dalam cadangan devisa global justru turun ke angka 1,93% pada kuartal ketiga 2025, jauh di bawah dolar (58%) dan Euro (20%).
Hambatan utama tetap pada kontrol modal. Beijing masih membatasi aliran uang masuk dan keluar demi menjaga stabilitas domestik. Namun, kebijakan ini membuat investor ragu karena Yuan menjadi kurang likuid untuk diinvestasikan kembali dibandingkan dolar.
Sebagai solusi transisi, Tiongkok menggunakan Hong Kong sebagai “laboratorium” uji coba. Chief Executive Hong Kong, John Lee, telah mengumumkan perluasan akses pasar antara daratan Tiongkok dan Hong Kong untuk menguji pelonggaran akun modal secara bertahap.
Internasionalisasi Yuan bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan strategi keamanan nasional. Dengan memperluas penggunaan Yuan di negara-negara Global South dan mitra dagang komoditas, Beijing sedang membangun benteng finansial yang kebal terhadap tekanan Barat.
Meskipun proses ini diprediksi memakan waktu bertahun-tahun, sinyal dari Beijing sudah jelas: Tiongkok siap memimpin tatanan keuangan dunia yang lebih terfragmentasi dan multipolar.







