Solusiindonesia.com — Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi momen penting bagi masyarakat Tionghoa sebagai penanda pergantian tahun dalam kalender lunar. Perayaannya tidak hanya berlangsung sehari, melainkan dirayakan selama 15 hari penuh. Salah satu tradisi yang paling melekat dan selalu hadir dalam suasana Imlek adalah pemberian angpau.
Di balik kebiasaan tersebut, angpau bukan sekadar amplop berisi uang. Tradisi ini memiliki makna simbolik dan fungsi sosial yang telah diwariskan lintas generasi. Lalu, apa sebenarnya angpau dan mengapa ia begitu erat dengan perayaan Imlek?
Angpau sebagai Simbol Harapan dan Perlindungan
Berdasarkan jurnal “Makna Simbolik Tradisi Angpau Perayaan Imlek Pada Masyarakat Etnis Tionghoa” karya Novita Charoline dkk, angpau didefinisikan sebagai hadiah yang diberikan dalam amplop berwarna merah.
Istilah angpau berasal dari bahasa Hokkien, gabungan kata “ang” yang berarti merah dan “pao” yang berarti amplop. Dalam bahasa Mandarin, angpau dikenal dengan sebutan hongbao.
Warna merah pada angpau bukan dipilih tanpa alasan. Dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan keberanian, keberuntungan, dan perlindungan dari energi buruk. Karena itu, pemberian angpau mengandung doa agar penerimanya memperoleh kesehatan, rezeki, keselamatan, serta terhindar dari kesialan di tahun yang baru.
Jejak Legenda di Balik Tradisi Angpau
Sejarah angpau juga lekat dengan berbagai legenda dalam budaya Tionghoa. Salah satunya dikisahkan dalam situs Badan Pemerintah Singapura, NLB. Cerita tersebut mengisahkan roh jahat bernama Sui yang kerap mengganggu anak-anak dengan menyentuh kepala mereka hingga menyebabkan sakit atau bahkan kematian.
Dalam legenda itu, Delapan Dewa Abadi menjelma menjadi delapan koin tembaga untuk membantu sepasang orang tua melindungi anak mereka. Koin-koin tersebut dibungkus kertas merah dan diletakkan di bawah bantal sang anak saat malam Imlek. Ketika roh Sui datang, cahaya dari koin membuatnya ketakutan dan pergi. Dari sinilah muncul konsep ya sui qian, yaitu uang yang dipercaya mampu menangkal roh jahat dan kemudian berkembang menjadi tradisi angpau.
Kisah lain berasal dari era Dinasti Tang, ketika Kaisar Xuanzong menghadiahkan koin emas dan perak sebagai jimat perlindungan bagi bayi yang baru lahir. Kebiasaan tersebut lalu ditiru oleh masyarakat umum.
Pada masa Dinasti Song, pemberian uang yang dikenal dengan istilah li shi menjadi bentuk penghargaan, dengan amplop yang kala itu terbuat dari kain atau sutra. Bahkan, uang yang diberikan sering kali berjumlah 100 koin sebagai simbol doa panjang umur. Hingga akhirnya, pada akhir Dinasti Qing, amplop merah mulai digunakan secara luas dan dikenal dengan nama hongbao seperti saat ini.
Tradisi yang Terus Hidup hingga Kini
Dalam praktik modern, pemberian angpau biasanya dilakukan oleh mereka yang telah menikah kepada anak-anak atau kerabat yang lebih muda dan belum menikah. Jumlah uang di dalamnya umumnya genap, karena angka ganjil diasosiasikan dengan ritual duka. Angka 4 dihindari karena pengucapannya menyerupai kata “kematian”, sementara angka 8 dianggap membawa kemakmuran.
Etika dalam Memberi dan Menerima Angpau
Angpau juga mengajarkan nilai kesopanan dan penghormatan dalam keluarga. Pemberiannya mengikuti hierarki usia dan status, dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Proses menyerahkan dan menerima angpau dilakukan dengan kedua tangan sebagai bentuk rasa hormat.
Dalam tradisi tertentu, anak-anak bahkan diminta berlutut saat menerima angpau dari orang yang lebih tua. Ucapan selamat seperti Gong Xi Fa Cai juga menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual ini. Amplop angpau pun tidak dibuka di hadapan pemberi, sebagai bentuk etika dan penghargaan.







