Solusiindonesia.com — Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menghadiri forum bergengsi Zayed Award for Human Fraternity 2026 di Museum Nasional Zayed, Abu Dhabi, Selasa (3/2/2026). Dalam forum internasional tersebut, Megawati membagikan refleksi mendalam mengenai kepemimpinan perempuan dan peran vital Pancasila dalam menjaga integrasi bangsa.
Kehadiran Megawati di Abu Dhabi disambut hangat oleh deretan tokoh global. Duduk di antara Presiden Timor Leste, Ramos Horta, dan peraih Nobel Perdamaian, Kailash Satyarthi, suasana akrab terlihat jelas sepanjang acara. Bahkan, Ramos Horta tampak menggandeng tangan Megawati saat menuju podium pembicara, menunjukkan kedekatan diplomatik yang personal.
Dalam kunjungannya, Megawati didampingi delegasi dari tanah air, di antaranya Muhammad Prananda Prabowo (Ketua DPP PDIP), Judha Nugraha (Dubes RI untuk UEA), Ahmad Basarah (Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri) dan Zuhairi Misrawi (Dubes RI untuk Tunisia)
Forum ini juga menghadirkan sederet tokoh perempuan berpengaruh sebagai pembicara, seperti Ibu Negara Lebanon Nehmat Aoun, Ibu Negara Pakistan Aseefa Bhutto Zardari, hingga Ibu Negara Kolombia Veronica Alcocer Garcia.
Sebuah momen ikonik terjadi ketika pena Megawati terjatuh saat berpidato; dengan sigap, Nehmat Aoun mengambilkannya. Interaksi ini menjadi simbol nyata persaudaraan antar-perempuan pemimpin yang hadir di lokasi.
Dalam pidatonya, Megawati mengenang tantangan berat yang ia hadapi saat menjabat sebagai Presiden (2001–2004). Ia menyoroti penanganan konflik horizontal di Ambon dan Poso yang kala itu mengancam persatuan nasional.
“Indonesia adalah negara kepulauan yang luas. Tanpa rasa kemanusiaan yang mendalam, sangat sulit untuk menyatukan satu pulau dengan lainnya,” ujar Megawati.
Ia menekankan bahwa kunci keberhasilannya meredam konflik etnis dan agama saat itu adalah menjauhkan cara-cara represif. Sebaliknya, ia mengedepankan Pendekatan Dialog dengan menghadirkan negara sebagai fasilitator perundingan, Musyawarah Mufakat untuk enghasilkan jalan damai yang diterima semua pihak dan Rekonsiliasi Nasional untuk memulihkan kembali sendi-sendi kemasyarakatan yang sempat retak.
Pancasila sebagai ‘Bintang Penuntun’
Megawati menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia keluar dari krisis tersebut bukan semata karena kebijakan teknis, melainkan kekuatan ideologi. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan, melainkan jiwa yang menuntun arah perjuangan bangsa.
“Pancasila berfungsi sebagai dasar berpijak dan bintang penuntun ke mana arah dan perjuangan bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Acara ditutup dengan sesi ramah tamah, di mana Megawati melayani permintaan berkenalan dari berbagai tokoh dunia yang antusias bertukar kartu nama, sekaligus berbincang khusus dengan Aseefa Bhutto Zardari mengenai isu-isu global.








